September 2002/INTISARI
Petir
berarus listrik terbesar di dunia terdapat di Depok, Jawa Barat. Banyak
korban berjatuhan. Lingkungan, manusia, harta benda, dan peralatan
rumah tangga. Tapi persoalan tentang petir memang kompleks, tidak bisa
hanya ditangani oleh PLN semata.
Cukup mengejutkan berita di Warta Kota edisi 22 Juli 2002 : “Petir
Depok Terganas di Dunia”. Harian metropolitan Jakarta dan sekitarnya
itu mendasarkan pada temuan ahli petir, peneliti pada Laboratorium Arus
Tinggi dan Tegangan Tinggi Jurusan Teknik Listrik Fakultas Teknik
Industri ITB, Dr. Ir. Dip. Ing Reynaldo Zoro.
Penelitian
yang disponsori PLN Cabang Depok, pada bulan April, Mei dan Juni 2002,
dengan menggunakan teknologi lighting position and tracking system
(LPATS), itu untuk mengenali perilaku petir di wilayah kota di selatan
Jakarta. Tak disangka, Zoro mendapati arus petir negatif berkekuatan
379,2 kA (kilo Ampere) dan petir positif mencapai 441,1 kA.
“Sejauh
pengetahuan saya, itu terbesar di dunia. Dengan kekuatan arus sebesar
itu, petir mampu meratakan bangunan gedung yang terbuat dari beton
sekalipun”, kata Zoro kepada Warta Kota. Selama ini, Indonesia memang
dikenal sebagai negara dengan sambaran petir cukup tinggi. Dalam
wawancara dengan majalah ini (Intisari Desember 2000), Zoro
menjelaskan, kondisi meteorologis Indonesia memang sangat ideal bagi
terciptanya petir. Tiga syarat pembentukan petir – udara naik,
kelembaban, dan partikel bebas atau aerosol – terpenuhi dengan baik di
Indonesia sebagai negara maritim.
Selama ini, penelitian Zoro
dipusatkan di kawasan Tangkuban Perahu, Jawa Barat, dengan anggapan di
daerah itu sambaran petri cukup besar. Tak dinyana, penelitian mutakhir
justru menemukan daerah Depok, khususnya selatan seperti Sawangan dan
Cinere. Menurut Zoro, Depok merupakan daerah yang dipengaruhi angin
regional dan angin lokal. Yakni angin dari lembah dan angin gunung dari
Bukit Barisan, serta angin lokal dari angin darat dan angin laut
Kepulauan Riau dan Selatan Malaka. Gerakan angin itulah yang
menyebabkan pembentukan awan petir dengan kerapatan dan sambaran petir
sangat tinggi.
Hari Guruh Terbanyak Di Dunia
Dalam
Intisari Desember 2000, Zoro mengibaratkan Bumi sebagai kapasitor.
Antara ionesfer dan Bumi, jika langit cerah, ada arus listrik yang
mengalir terus-menerus, dari ionosfer yang bermuatan positif ke Bumi
yang bermuatan negatif. Tapi Bumi tidak terbakar, karena ada awan petir
yang bermuatan listrik positif maupun negatif sebagai penyeimbang.
“Yang positif turun ke Bumi, dan yang negatif naik ke ionosfer,” kata
Zoro.
Ketika langit berawan, tidak semua awan adalah awan
petir. Hanya awan cumulonimbus yang menghasilkan petir. Petir terjadi
karena pelepasan muatan listrik dari satu awan cumulonimbus ke awan
lainnya, atau dari awan langsung ke Bumi.
Dalam terminologi
Perusahaan Listrik Negara (PLN), instansi yang paling sering menanggung
kerugian karena petir, sambaran dibedakan menjadi tiga jenis yang
semuanya didata. Selain sambaran positif dan sambaran antarawan, ada
juga sambaran negatif, yakni lompatan listrik dari Bumi ke ionosfer.
Dalam
catatan PLN Depok, sepanjang tahun 2001 terjadi 340 kali sambaran
positif, 8.520 kali sambaran negatif, dan 1.151 sambaran antarawan.
Kekuatan maksimum yang tercatat 290,2 kA. Sambaran negatif yang
jumlahnya jauh lebih tinggi daripada sambaran positif atau antarawan,
diduga karena kandungan besi tanah di Depok terbilang tinggi. Seorang
staf PLN Unit Bisnis Strategis Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa
Bali (UBS P3B), Cinere, menerangkan, “Penelitian ahli geologi UI
beberapa tahun lalu pernah mendapati tingginya kandungan besi di
sekitar Depok, khususnya di danau buatan di Kampus UI. Mungkin temuan
itu ada hubungannya juga, karena di musim hujan petir di sekitar danau
sangat kuat.”
Menurut Zoro, sambaran petir di Depok terjadi
hampir sepanjang tahun. Yang tertinggi pada bulan Maret, April, dan
Mei, atau pada musim hujan. Sambaran agak mereda di bulan Februari.
Warta Kota juga mengutip data yang didapat pada laboratorium yang
dipimpin Zoro di ITB, Jaringan Deteksi Petir Nasional, bahwa Indonesia
memiliki hari guruh (hari terjadinya petir dalam setahun) 200 hari.
Sementara Brasil 140 hari, Amerika Serikat 100 hari, dan Afrika Selatan
60 hari.
Menekan Kerugian
Penelitian
Zoro di Depok, semula ditujukan semata-mata untuk mengenali kekuatan
dan karakter petir. Karena setiap kali PLN UBD Jawa Barat dan Banten,
Area Pelayanan Jaringan Depok, menderita kerugian akibat sambaran
petir. Trafo terbakar, jaringan putus, pemadaman listrik sehingga
sejumlah KWh tak terjual, sampai peralatan elektronika rumah tangga
rusak dan konsumen mengadukan ke PLN.
“Keluhan konsumen dan kerusakan instalasi PLN, 75% disebabkan oleh petir”, kata Ir. Hadi Suhana, kepala PLN Depok.
Sebelum
dilakukan pengamanan, dalam sebulan dipastikan tujuh-delapan trafo PLN
rusak. Untuk memperbaikinya dibutuhkan biaya Rp. 120 juta – Rp. 150
juta. Selain itu, PLN Depok juga kehilangan (KWh yang tidak terjual)
sekitar 0,5% pendapatan dari hasil penjualan, atau sekitar Rp. 150 juta
akibat padamnya listrik.
Secara keseluruhan, menurut Hadi
Suhana, kerugian akibat petir dalam tahun 2001 senilai Rp. 1,1 miliar,
dan kerugian karena kerusakan trafo Rp. 1 miliar. Atas rekomendasi
Zoro, PLN Depok melakukan langkah pengamanan sehingga kerugian bisa
ditekan. Sampai semester perama 2002, menurut catatan Hadi, kerugian
karena petir Rp. 373 juta, dan kerugian karena kerusakan trafo Rp. 264
juta. “Dalam persentase, kalau biaanya kerugian tahunan di atas dua
digit, dari semester pertama tahun ini sudah terlihat, itu bisa ditekan
hingga 9,8%”, tambah Hadi.
Pengamanan yang dilakukan adalah
memasang arrester alias “penangkap” petir untuk menyamakan perbedaan
potensial listrik yang dibawa petir dengan tanah, melakukan perbaikan
grounding alias pentanahan, serta pemasangan kawat tanah.
Tentu
saja, proses itu akan memakan waktu dan dana yang tidak sedikit. Betapa
dicakupan area pelayanan jaringan yang mencapai luas 60 x 60 km2,
memiliki sekitar 320.000 pelanggan dengan pertumbuhan tahunan sekitar
10% yang mengambil listrik dari 47 feeder (semacam gardu sebagai
kepanjangan pembangkit listrik), bentangan saluran udara tegangan
menengah (SUTM) mencapai 429 km, itu terdapat ribuan titik yang setiap
titiknya memerlukan tiga buah arrester.
“Sampai akhir Desember
nanti, target kami dalam pemasangan arrester, grounding dan kawat tanah
adalah 5.000 titik. Pemasangannya secara selektif, pada titik rawan
petir yang ditunjukkan oleh serveinya Pak Zoro”.
Hadi dan
seluruh stafnya sadar, upaya yang mereka lakukan ada batas maksimalnya,
yang belum tentu sanggup mengatasi persoalan secara total. Yang
memprihatinkan, Hadi bilang, adalah ketersediaan arrester. Perangkat
yang dipakai selama ini adalah tipe nonlinier yang kinerja maksimalnya
pada kekuatan 10kA.
“Walaupun tak semua titik akan disambar
petir berkekuatan ratusan kA, tetap saja rata-rata petir kita amperenya
besar. Jadi yang sekuat-kuatnya arrester, pasti lifetime-nya pendek”.
Bukan Cuma tanggung jawab PLN
Petir,
peristiwa yang merupakan bagian dari sirkuit global, adalah persoalan
yang cukup kompleks. Hadi Suhana menekankan, masalah petir ini terlalu
besar kalau hanya ditangani oleh PLN. Maka tak sekali-dua pihaknya
melakukan penyuluhan, pengawasan, dan pendidikan masyarakat walau tidak
secara langsung. Misalnya mengajarkan cara pentanahan yang baik bagi
pembangunan rumah, juga aneka petunjuk pengamanan lainnya.
Termasuk
didalamnya misalnya menjelaskan bahwa penerangan jalan umum (PJU)
bukanlah tanggung jawab PLN, tetapi pemerintah daerah. Sehinga tidak
setiap kali kerusakan perangkat rumah tangga harus komplain ke PLN.
Sesekali
dalam perbincangan dengan masyarakat, staf Hadi menjelaskan, petir
menyambar karena mencari persamaan potensial. Petir yang menyambar ke
tanah, jika tidak menemukan potensial yang sama, akan keluar lagi
mencarinya. Yang dicari apa saja yang bersifat sebagai konduktor. Bena
atau makhluk hidup seperti manusia.
Makanya, jika suatu saat
Anda kebetulan berada di dekat petir, segerelah rapatkan kedua kaki.
Sebab kaki yang terbuka aka membedakan potensial dan memungkinkan arus
listrik petir melompat diantaranya.
Tulisan : Mayong S. Laksono

