May
14

Nasihat Orang Tua di Pondok Petir

Filed Under (Uncategorized) by auliahazza on 14-05-2006

September 2002/INTISARI

Suatu
sore awal Agustus di Kelurahan Pondok Petir, Sawangan, Depok, tak
sampai 50 km dari pusat kota Jakarta. Sekelompok remaja laki-laki
bermain sepakbola dilapangan depan kantor kelurahan. Cuaca agak gelap
karena mendung. Maklum. Sekalipun wilayah lain kekeringan, di desa itu
– dan wilayah lain di Depok – masih sering turun hujan. Haji Ahmad,
seorang tokoh desa yang bertahun-tahun menjabat Ketua RT sampai
dijuluki “RT Ahmad”, yang rumahnya juga menghadap lapangan itu,
berteriak menyuruh anak-anak berhenti. Mereka pun menurut. Seperti
biasanya, ketika hujan, petir pasti menyambar-nyambar.

Begitulah
kebiasaan masyarakat. Sekalipun nama desanya Pondok Petir, mereka punya
kearifan tradisional untuk segera mengamankan diri ketika ada ancaman
petir.

“Seingat saya di desa ini belum pernah ada orang yang
mati kesamber petir”, kata H. Ahmad (57), warga asli Pondok Petir.
“Memang ada, orang lagi di sawah terus di sebelahnya ada ledakan karena
sambaran petir, dia jatuh, terus lari, kesamber lagi, jatuh lagi. Tapi
enggak sampai mati tuh. Orangnya masih hidup sampai sekarang”.

Ayah
tiga anak, kakek tujuh cucu, yang sehari-hari mengelola warung
kebutuhan rumah tanggal itu tak tahu pasti asl-muasal desanya disebut
Pondok Petir. Ia menduga, itu karena sejak masa lampau petir sering
menyambar desanya. “Sebab kata tetua dulu, dan pengalaman saya juga, di
sini petirnya banyak dan galak-galak”.

Menurut Ahmad, petir di
desanya selama in hanya menyambar bangunan, lingkungan, dan harta
benda. Telepon dan pesawat televisinya beberapa kali rusak. Pohon
tumbang, juga sawah yang sampai terbelah. “Kalau bangunan, yang paling
besar ya bangunan sekolah yang hancur separoh. Kayunya berantakan kagak
berbentuk. Kalau enggak salah itu kejadian tahun 1957”, sambung Pak
Haji yang menjabat Ketua RT dari tahun 1973 sampai 1997. Kelurahan
Pondok Petir terdiri atas dua dusun, empat RW dan 13 RT.

Nasihat
orang tua yang masih diingatnya, ketika hujan cepat-cepat masuk rumah.
Kalaupun berteduh di bawah pohon, misalnya, tidak boleh memegang pohon.
Di rumah pun harus naik ke atas kursi atau balai-balai, tidak
membiarkan kaki terjuntai ke bawah. Apakah karena nasihat selalu
dituruti, dan apakah karena itu di desa yang kekuatan petirnya
terbilang terbesar di dunia, petir tidak pernah memakan korban manusia
? Barangkali di dalam kearifan tradisional yang diikuti warga Pondok
Petir terkandung juga cara menyamakan perbedaan potensial, terutama
ketika aliran listrik yang terbawa petir melompat buat mencari
persamaan potensial.

Tulisan : Mayong S. Laksono



Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: