Saya sering terkaget-kaget dengan
anak-anak sekolah dalam hal mengetik. Mereka membutuhkan waktu lama
sekali untuk mengetik 1 halaman letter/quarto. Pernah cuma ½ halaman
hampir 2 jam … waaah. Waktu yang lama untuk mengetik. Saya kira sudah
berhalaman-halaman.
Perlu sekali mengetik sepuluh jari agar
jari tidak mengalami keletihan. Kalau sepuluh jari terpakai semua
dengan cara bergantian dalam waktu cepat, jari akan bekerja sama untuk
menekan semua tombol dikeyboard. Tapi kalau hanya 2 atau 3 jari yang
terpakai, lama kelamaan jari akan menjerit kesakitan. Apa tidak kasihan
? Akibat mengetik dengan cara tersebut pasti keluar kalimat “Capek
ngetik” or “Males ngetik”.
Untungnya mengetik sepuluh jari,
pekerjaan jadi cepat selesai, kalau ke rental komputer uang dikeluarkan
akan lebih sedikit karena cepatnya itu
. Hemat bukan !?
Selain
mengetik sepuluh jari juga harus diimbangin dengan tidak melihat
(blind). Keuntungannya leher tidak sakit. Kalau tidak blind, leher akan
sebentar-sebentar lihat teks (tulisan) dikertas kemudian ke arah
keyboard terus ke monitor … nah loo … kasihan donk leher …
Belajar
mengetik sepuluh jari blind harus sabar, ga boleh bosen. Pertama kali
belajar, yang ditekan adalah huruf itu terus. Misalnya tekan huruf A
dengan jari kelingking kiri sebanyak 10 baris tapi tidak lihat keyboard.
Zaman dahulu belum ada komputer, belajarnya pake mesin ketik. Sakit lho
kelingking saya, karena sering kejeblos. Bahasa Indonesia itu
kebanyakan huruf A-nya. Selain itu tombol mesin ketik ‘kan keras.
Beruntung sekarang pakais keyboard yang tombolnya lembut jadi ga sakit.
Jangan lupa, mengetik sepuluh jari dengan sistem buta itu harus disiplin terutama dalam soal untuk tidak melihat keyboard.
Bagaimana ? Pasti semuanya pasti bisa …

