May
08
Filed Under (Uncategorized) by auliahazza on 08-05-2006

Terlahir sebagai anak tertua dari
pasangan orang tua asal Silungkang, Kab. Sawahlunto/Sijunjung, Sumatera
Barat. Lahir hari Jum’at di Jakarta, sekitar jam 11 siang, sewaktu
orang siap-siap sholat Jum’at.

Ibu suka sekali dengan nama
“Aulia”. Beliau pertama kali mendengar dari guru ngajinya di
Silungkang. Guru ngajinya ini punya anak laki-laki bernama “Aulia”.

Tahun
70-an, banyak yang bernama “Aulia” dan biasanya diberikan ke anak
laki-laki. Aulia itu artinya pemimpin. Laki-laki itu memang harus
menjadi pemimpin. Dan Bapak mengharapkan sekali anak pertamanya adalah
laki-laki.

Setelah nama depannya ketemu. Bapak mencari nama
belakangnya. Ada di Al Qur’an yaitu Azza, lengkapnya dari “Allah Azza
wa Jalla”.

Setelah anaknya lahir, rupanya yang keluar anak perempuan bukan laki-laki :p

Karena
sudah sangat suka nama tersebut .. tetap dikasih “Aulia Azza” yang
artinya Pemimpin Yang Mulia. Karena perempuan ditambahan huruf “h”
dibelakang Aulia jadi Auliah Azza.

Setelah masuk sekolah, huruf
dinama saya suka hilang baik oleh teman atau guru, untuk segala jenis
pendataan. Orang-orang suka menulisnya Aulia Azza atau Auliah Aza atau
Aulia Aza. Dan jarang yang benar. Nama panggilan pun mulai dari Lia,
Doang, Aul, dan Aja. Tapi saya tidak suka dipanggil “Lia” karena
pasaran. “Doang” atau “Aja” menurut saya nama ejekan. Saya paling
senang dipanggil “Aulia” tanpa “h” … nanti bau donk ).
Kalau di ponsel atau ngetik email sering pake “Aul” karena ga kepanjangan ngetiknya. Terus terang aja,
paling suka dipanggil “Aulia” tanpa h atau “Azza” karena kata tersebut
saya anggap doa.

Karena nama itulah saya suka diduga laki-laki.
Pernah SMP kelas 1, wali kelas saya mencantumkan jenis kelamin di
raport adalah laki-laki padahal jelas-jelas beliau tahu saya itu
perempuan ).

Saya
mengenal dunia maya. Ikutan milist. Karena tidak melihat wajah langsung
dan orang-orang masih menganggap nama Aulia itu laki-laki. Jadi saya
disangka laki-laki … “Mas”, “Pak” )

Pengen sih becandain … “Kalau siang hari, jadi laki-laki, kalau malam hari, jadi perempuan” :p

Sebenarnya
saya suka sekali … suka sekali dengan nama yang diberikan oleh orang
tua saya. Orang tua saya mungkin mengharapkan anaknya menjadi pemimpin
yang mulia … ya … minimal menjadi pemimpin diri sendiri deh ….

Selain
itu, beberapa tahun ini nama Allah yang panggilannya “Allah Azza wa
Jalla” sering dipakai … wah senangnya saya … ehh nama Aul disebut … ) :p

May
08
Filed Under (Uncategorized) by auliahazza on 08-05-2006

Pernah ke Puncak ? Pasti pernah …
Pernah lihat jarak langit dan bumi di Puncak ? Pernah lihat jarak
langit dan bumi di Jakarta ? Tahu bedanya ?

Menurut saya,
jarak permukaan bumi selain dari dinginnya udara juga bisa dilihat
kasat mata dengan melihat jarak pandangan mata dengan langit.

Jarak
langit dan bumi, maksudnya jarak pandang mata ke langit di Puncak
sangatlah dekat. Seakan-akan bisa digapai dengan tangan atau bisa naik
dengan tangga. Langit sangat biru jernih, indah sekali. Banyak sekali
bintang bertaburan sangat jelas jika langit tak sendu.
Di Reni Jaya juga begitu. Langit terlihat sangat dekat. Jika langit
lagi cantik, birunya sangat indah … luar biasa indah. Malam hari yang
cerah, banyak sekali bintang bertaburan. Leher saya tidak pegel dan
tidak terlalu menengadah untuk melihatnya.

Jakarta
dan Bekasi, langit terasa jauuuuuuuh, seperti saya tidak bisa
menggapainya serta leher saya pegel. Udara juga panas. Birunya jarang
cantik dan jernih alias biru pucat.

Tinggal di Reni Jaya …
sepertinya saya harus beli teleskop … nongkrong di atas atap … asyik
banget … atau kemping nih … dibawah atap langit bertaburan bintang …

May
08
Filed Under (Uncategorized) by auliahazza on 08-05-2006

Saya sering terkaget-kaget dengan
anak-anak sekolah dalam hal mengetik. Mereka membutuhkan waktu lama
sekali untuk mengetik 1 halaman letter/quarto. Pernah cuma ½ halaman
hampir 2 jam … waaah. Waktu yang lama untuk mengetik. Saya kira sudah
berhalaman-halaman.

Perlu sekali mengetik sepuluh jari agar
jari tidak mengalami keletihan. Kalau sepuluh jari terpakai semua
dengan cara bergantian dalam waktu cepat, jari akan bekerja sama untuk
menekan semua tombol dikeyboard. Tapi kalau hanya 2 atau 3 jari yang
terpakai, lama kelamaan jari akan menjerit kesakitan. Apa tidak kasihan
? Akibat mengetik dengan cara tersebut pasti keluar kalimat “Capek
ngetik” or “Males ngetik”.

Untungnya mengetik sepuluh jari,
pekerjaan jadi cepat selesai, kalau ke rental komputer uang dikeluarkan
akan lebih sedikit karena cepatnya itu ). Hemat bukan !?

Selain
mengetik sepuluh jari juga harus diimbangin dengan tidak melihat
(blind). Keuntungannya leher tidak sakit. Kalau tidak blind, leher akan
sebentar-sebentar lihat teks (tulisan) dikertas kemudian ke arah
keyboard terus ke monitor … nah loo … kasihan donk leher …

Belajar
mengetik sepuluh jari blind harus sabar, ga boleh bosen. Pertama kali
belajar, yang ditekan adalah huruf itu terus. Misalnya tekan huruf A
dengan jari kelingking kiri sebanyak 10 baris tapi tidak lihat keyboard.
Zaman dahulu belum ada komputer, belajarnya pake mesin ketik. Sakit lho
kelingking saya, karena sering kejeblos. Bahasa Indonesia itu
kebanyakan huruf A-nya. Selain itu tombol mesin ketik ‘kan keras.

Beruntung sekarang pakais keyboard yang tombolnya lembut jadi ga sakit.

Jangan lupa, mengetik sepuluh jari dengan sistem buta itu harus disiplin terutama dalam soal untuk tidak melihat keyboard.

Bagaimana ? Pasti semuanya pasti bisa …