Apr
22
Filed Under (Uncategorized) by auliahazza on 22-04-2006

Kemarin malam Liputan6 SCTV mengupas masalah Playboy dan bagus banget diskusinya. Agar tidak hilang hasil diskusinya, saya simpan di blog ini. Adapun isi sebagai berikut :

http://www.liputan6.com/view/8,121592,1,0,1145744787.html

Liputan6.com, Jakarta: Dicari dan dicaci. Itulah nasib Majalah Playboy
versi Indonesia. Betapa tidak, majalah yang baru terbit dua pekan ini
menjadi media yang paling banyak dibicarakan orang. Jangankan setelah
terbit. Pada tahap rencana pun, majalah yang investasi awalnya sekitar
Rp 3-4 miliar itu telah ramai dipergunjingkan. Namun dalam waktu
singkat, sekitar 100 ribu eksemplar majalah Playboy laris. Padahal
harga di pengecer bisa sampai Rp 120 ribu dari harga resmi Rp 39 ribu!

Pihak
PT Velvet Silver Media sebenarnya sudah memprediksi akan menjadi
cibiran sejumlah orang ketika membeli lisensi dari Playboy Amerika
Serikat. Maklumlah, brand image Playboy sebagai ikon pornografi
dunia tentu tak akan diterima oleh sebagian kalangan di Indonesia.
Justru karena ingin mengubah citra seperti itulah Playboy Indonesia
lahir. "Kita anak muda dengan visi bisnis yang nyeleneh," kata Direktur
Velvet Silver Media Ponti Carolus dalam debat terbuka Menimbang Moral Bangsa yang digelar SCTV di Jakarta, Sabtu (22/4).

Selain
Ponti, hadir sebagai narasumber dalam dialog ini adalah Ketua
Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia Fauzan Al
Anshari. Hadir pula tamu dalam acara ini tokoh agama Ustad Jeffry
Al-Buchory, Pendeta Nathan Setiabudi, pakar komunikasi dari Komisi
Penyiaran Indonesia Ade Armando, serta anggota Dewan Pers Emir Effendi
Siregar.

Ponti mengaku memilih Playboy karena namanya yang sudah
mendunia. Karena itu, pihaknya tak perlu menghamburkan uang banyak
untuk biaya promosi. Dia cukup mengantisipasi dampak buruk dari
penerbitan majalah ini dengan sedikit penyesuaian agar tak terlalu
menabrak budaya Indonesia. "Kita cukup aware dengan konsekuensinya," tambah Ponti.

Sebagai
gambaran, Ponti mengambil contoh McDonald Douglas yang sukses diterima
masyarakat Indonesia. Di negara aslinya, MCDonald menyajikan bacon
yang terbuat dari daging babi sebagai hidangan utama. Tapi ketika masuk
ke Indonesia yang mayoritas muslim, MCDonald tak menyuguhkan bacon.
Tapi perusahaan ini bisa sukses dengan menjual menu daging ayam dan
nasi yang hanya terdapat di Indonesia.

Karena itu, sebagian
konsumen yang pola pemikirannya sudah terbentuk dengan citra Playboy di
AS tentu akan kecewa. Tak ada gambar perempuan telanjang dalam majalah
ini seperti layaknya versi bule. Bahkan isi Playboy Indonesia ini lebih
"sopan" dibandingkan majalah khusus dewasa made in Indonesia.

Selain
disesuaikan dengan kultur, norma, dan aturan yang berlaku, Ponti
mengaku berencana menjadikan Playboy sebagai media pembelajaran bagi
masyarakat. Rencananya, majalah ini akan menampilkan pula tulisan dari
tokoh agama, politik, atau pihak kepolisian.

Rencana tersebut
langsung disergah Ade Armando. Anggota KPI ini menilai Ponti tak perlu
berkelit seperti itu. Pasalnya, majalah asal Chicago, AS, ini pada
dasarnya adalah majalah hiburan plus bermuatan porno. "Saya rasa enggak
perlu Anda bantah itu," kata Ade.

Ketika sebagian kalangan masih
bingung dengan batasan porno, tak demikian bagi MMI. Dengan tegas
Fauzan menyatakan, 15 gambar yang terdapat dalam Playboy Indonesia bisa
dikategorikan cabul. Karena itu pihaknya akan mensomasi Playboy
Indonesia. Apalagi majalah khusus dewasa ini diperjualbelikan secara
bebas. Berbarengan dengan ini, MMI juga akan mensomasi instansi yang
memberi izin penerbitan Playboy versi Indonesia. "Majalah Playboy wajib
ditutup demi kemaslahatan umat," tegas Fauzan.

Kehadiran Playboy
di tengah kontroversi Rancangan Undang-undang Antipornografi dan
Pornoaksi memang ibarat menyiram bensin ke dalam api. Masyarakat uang
antipornografi langsung menumpahkan amarahnya ke majalah yang awalnya
berkantor di ASEAN Aceh Fertilizer (AAF), Jalan TB Simatupang,
Cilandak, Jakarta Selatan itu [baca: FPI Menyerbu Kantor Majalah Playboy Indonesia].

Dalam
forum ini, memang tak ada yang setuju dengan jalan kekerasan seperti
yang dilakukan anggota Front Pembela Islam. Jeffry Al-Buchory menilai,
reaksi ini timbul dari kekesalan terhadap sikap manajemen Playboy yang
terkesan menantang. Sebelumnya, sejumlah kalangan meminta Velvet
minimal menahan rencana penerbitan majalah Playboy. "Kenapa senang
membentur-benturkan kepala ke tembok," analogi ustad yang akrab disapa
Uje ini.

Pendapat senada juga dilontarkan Nathan Setiabudi.
Ketua Umum Persatuan Gereja Indonesia ini meminta manajemen Playboy tak
hanya mementingkan kepentingan bisnis. Unsur memelihara moral bangsa
juga tak bisa dikesampingkan. "Saudara jangan enteng mengatakan, nama
dipisahkan dari isi. Playboy itu [identik dengan] perempuan tanpa
busana," tambah Nathan.

Muatan bisnis memang kental terasa di
balik penerbitan Playboy versi Indonesia. Sebelum Playboy hadir di
Indonesia, sudah ada sejumlah media yang mengeksploitasi fisik
perempuan. Berdasarkan data Dewan Pers, ada sekitar 20 terbitan yang
dikeluhkan masyarakat sebagai media pornografi. Ini secara tak
langsung, menandakan permintaan pasar majalah khusus dewasa masih
tinggi. Akan tetapi, karena alasan moral, terbitnya harus
sembunyi-sembunyi.

Berkutat pada definisi pornografi tentu tak
akan menyelesaikan masalah. Salah satu alternatif yang mencuat dalam
forum ini adalah keputusan Dewan Pers yang akan mengeluarkan peraturan
soal distribusi majalah dewasa. Dengan sistem yang diatur sedemikian
rupa, diharapkan majalah yang dinilai merangsang sahwat tak lagi
dipajang sembarangan sehingga terutama bisa dengan mudah dilihat
anak-anak.

Berbarengan dengan itu, Ponti juga meminta
rambu-rambu yang jelas bagi media khusus dewasa. Parameter ini kemudian
diperkuat dengan UU Antipornografi dan Pornoaksi. "Kita meng-encourage undang-undang APP," tutur Ponti yang mengaku sudah menahan rencana penerbitan Playboy edisi kedua.(YAN)