Menjadi PEMIMPIN itu sangat sulit, baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain. Manusia selalu ingin menjadi MULIA di mata Tuhan dan selalu berusaha mencapainya sampai akhir hayat.
Kemarin malam Liputan6 SCTV mengupas masalah Playboy dan bagus banget diskusinya. Agar tidak hilang hasil diskusinya, saya simpan di blog ini. Adapun isi sebagai berikut :
http://www.liputan6.com/view/8,121592,1,0,1145744787.html
Liputan6.com, Jakarta: Dicari dan dicaci. Itulah nasib Majalah Playboy
versi Indonesia. Betapa tidak, majalah yang baru terbit dua pekan ini
menjadi media yang paling banyak dibicarakan orang. Jangankan setelah
terbit. Pada tahap rencana pun, majalah yang investasi awalnya sekitar
Rp 3-4 miliar itu telah ramai dipergunjingkan. Namun dalam waktu
singkat, sekitar 100 ribu eksemplar majalah Playboy laris. Padahal
harga di pengecer bisa sampai Rp 120 ribu dari harga resmi Rp 39 ribu!
Pihak
PT Velvet Silver Media sebenarnya sudah memprediksi akan menjadi
cibiran sejumlah orang ketika membeli lisensi dari Playboy Amerika
Serikat. Maklumlah, brand image Playboy sebagai ikon pornografi
dunia tentu tak akan diterima oleh sebagian kalangan di Indonesia.
Justru karena ingin mengubah citra seperti itulah Playboy Indonesia
lahir. "Kita anak muda dengan visi bisnis yang nyeleneh," kata Direktur
Velvet Silver Media Ponti Carolus dalam debat terbuka Menimbang Moral Bangsa yang digelar SCTV di Jakarta, Sabtu (22/4).
Selain
Ponti, hadir sebagai narasumber dalam dialog ini adalah Ketua
Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia Fauzan Al
Anshari. Hadir pula tamu dalam acara ini tokoh agama Ustad Jeffry
Al-Buchory, Pendeta Nathan Setiabudi, pakar komunikasi dari Komisi
Penyiaran Indonesia Ade Armando, serta anggota Dewan Pers Emir Effendi
Siregar.
Ponti mengaku memilih Playboy karena namanya yang sudah
mendunia. Karena itu, pihaknya tak perlu menghamburkan uang banyak
untuk biaya promosi. Dia cukup mengantisipasi dampak buruk dari
penerbitan majalah ini dengan sedikit penyesuaian agar tak terlalu
menabrak budaya Indonesia. "Kita cukup aware dengan konsekuensinya," tambah Ponti.
Sebagai
gambaran, Ponti mengambil contoh McDonald Douglas yang sukses diterima
masyarakat Indonesia. Di negara aslinya, MCDonald menyajikan bacon
yang terbuat dari daging babi sebagai hidangan utama. Tapi ketika masuk
ke Indonesia yang mayoritas muslim, MCDonald tak menyuguhkan bacon.
Tapi perusahaan ini bisa sukses dengan menjual menu daging ayam dan
nasi yang hanya terdapat di Indonesia.
Karena itu, sebagian
konsumen yang pola pemikirannya sudah terbentuk dengan citra Playboy di
AS tentu akan kecewa. Tak ada gambar perempuan telanjang dalam majalah
ini seperti layaknya versi bule. Bahkan isi Playboy Indonesia ini lebih
"sopan" dibandingkan majalah khusus dewasa made in Indonesia.
Selain
disesuaikan dengan kultur, norma, dan aturan yang berlaku, Ponti
mengaku berencana menjadikan Playboy sebagai media pembelajaran bagi
masyarakat. Rencananya, majalah ini akan menampilkan pula tulisan dari
tokoh agama, politik, atau pihak kepolisian.
Rencana tersebut
langsung disergah Ade Armando. Anggota KPI ini menilai Ponti tak perlu
berkelit seperti itu. Pasalnya, majalah asal Chicago, AS, ini pada
dasarnya adalah majalah hiburan plus bermuatan porno. "Saya rasa enggak
perlu Anda bantah itu," kata Ade.
Ketika sebagian kalangan masih
bingung dengan batasan porno, tak demikian bagi MMI. Dengan tegas
Fauzan menyatakan, 15 gambar yang terdapat dalam Playboy Indonesia bisa
dikategorikan cabul. Karena itu pihaknya akan mensomasi Playboy
Indonesia. Apalagi majalah khusus dewasa ini diperjualbelikan secara
bebas. Berbarengan dengan ini, MMI juga akan mensomasi instansi yang
memberi izin penerbitan Playboy versi Indonesia. "Majalah Playboy wajib
ditutup demi kemaslahatan umat," tegas Fauzan.
Kehadiran Playboy
di tengah kontroversi Rancangan Undang-undang Antipornografi dan
Pornoaksi memang ibarat menyiram bensin ke dalam api. Masyarakat uang
antipornografi langsung menumpahkan amarahnya ke majalah yang awalnya
berkantor di ASEAN Aceh Fertilizer (AAF), Jalan TB Simatupang,
Cilandak, Jakarta Selatan itu [baca: FPI Menyerbu Kantor Majalah Playboy Indonesia].
Dalam
forum ini, memang tak ada yang setuju dengan jalan kekerasan seperti
yang dilakukan anggota Front Pembela Islam. Jeffry Al-Buchory menilai,
reaksi ini timbul dari kekesalan terhadap sikap manajemen Playboy yang
terkesan menantang. Sebelumnya, sejumlah kalangan meminta Velvet
minimal menahan rencana penerbitan majalah Playboy. "Kenapa senang
membentur-benturkan kepala ke tembok," analogi ustad yang akrab disapa
Uje ini.
Pendapat senada juga dilontarkan Nathan Setiabudi.
Ketua Umum Persatuan Gereja Indonesia ini meminta manajemen Playboy tak
hanya mementingkan kepentingan bisnis. Unsur memelihara moral bangsa
juga tak bisa dikesampingkan. "Saudara jangan enteng mengatakan, nama
dipisahkan dari isi. Playboy itu [identik dengan] perempuan tanpa
busana," tambah Nathan.
Muatan bisnis memang kental terasa di
balik penerbitan Playboy versi Indonesia. Sebelum Playboy hadir di
Indonesia, sudah ada sejumlah media yang mengeksploitasi fisik
perempuan. Berdasarkan data Dewan Pers, ada sekitar 20 terbitan yang
dikeluhkan masyarakat sebagai media pornografi. Ini secara tak
langsung, menandakan permintaan pasar majalah khusus dewasa masih
tinggi. Akan tetapi, karena alasan moral, terbitnya harus
sembunyi-sembunyi.
Berkutat pada definisi pornografi tentu tak
akan menyelesaikan masalah. Salah satu alternatif yang mencuat dalam
forum ini adalah keputusan Dewan Pers yang akan mengeluarkan peraturan
soal distribusi majalah dewasa. Dengan sistem yang diatur sedemikian
rupa, diharapkan majalah yang dinilai merangsang sahwat tak lagi
dipajang sembarangan sehingga terutama bisa dengan mudah dilihat
anak-anak.
Berbarengan dengan itu, Ponti juga meminta
rambu-rambu yang jelas bagi media khusus dewasa. Parameter ini kemudian
diperkuat dengan UU Antipornografi dan Pornoaksi. "Kita meng-encourage undang-undang APP," tutur Ponti yang mengaku sudah menahan rencana penerbitan Playboy edisi kedua.(YAN)
<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>
Sewaktu mendengar pertanyaan diatas
membuat saya kaget. Yang mengajukannya seorang manajer, umur 30-an,
lulusan universitas termuka. Tapi pertanyaannya bikin saya ketawa
sangat geli.
Saat itu ia belajar Word. Sewaktu saya
perintahkan mengklik suatu icon di Word, keluarlah kalimat “Kliknya
Sekarang?”
Mula-mula, saya terkejut kemudian
terdiam sejenak terus …
“Iya, sekarang diklik…”
Rupanya ia hobi lho bilang “Kliknya
sekarang?”, karena tidak berapa lama kemudian muncul lagi
pertanyaan seperti itu untuk suruhan perintah yang lain. Padahal saya
jelas-jelas kasih perintah “Klik”.
Karena sudah kesal. Sewaktu dia tanya
lagi, akhirnya saya jawab “Tahun depan boleh kok dikliknya ….”
Dia pun terdiam … ga lama kemudian ia
pun tertawa. Saya pun tersenyum geli.
Saya ga tahu apa artinya tertawanya.
Apakah karena lucu mendengar jawaban saya atau mentertawakan
kebodohan pertanyaannya.
Rupanya pertanyaan “klik sekarang?”
bukan milik si manajer aja. Orang-orang yang saya ajarkan ada
beberapa mengajukan pertanyaan tersebut. Salah satunya user saya dan
ia cuma tertawa saja mendengar jawabannya.
Kalau ada yang mengajukan perintah itu
lagi, salah satu jawabannya sebagai berikut :
“Mau kliknya besok …. boleh”
“Mau kliknya lusa… boleh”
“Mau kliknya bulan depan… boleh”
“Mau kliknya tahun depan juga boleh”
Yang
dimaksud dengan dokter jerawat adalah dokter spesialis kulit dan
kelamin. Selama saya pergi ke dokter kulit kebanyakan orang
berkonsultasi tentang jerawat. Kalau penyakit kulit yang lain atau
yang berhubungan dengan kelamin, paling-paling cuma 1 atau 2 orang
saja. Itu menurut info yang saya dapat lho …
Tujuan
ke dokter kulit .. yaaa karena jerawat ga sembuh-sembuh, timbul
tenggelam juga cerewetnya ibu. Cuma 1 biji jerawat aja diributkan. Aul
sih sebenarnya ga ambil pusing dengan jerawat. Ga parah-parah banget
dibandingkan dengan orang yang pernah saya lihat punya jerawat sampai
mukanya bopeng-bopeng.
Udah
kesel dan kuping panas, dengan sangat terpaksa pergi ke rumah sakit
Angkatan Laut yang lokasinya dekat kantor. Hmm …. akhirnya …
akhirnya kesana juga :)). Jam 8 pagi udah ngendon di rumah sakit dan
pastinya minta izin kantor donk …:D
Yang
Gemuk Pengen Kurus, Yang Kurus Pengen Gemuk
Sudah
daftar, bayar, antri dan akhirnya duduk didepan dokter kulit.
Dokternya perempuan, umurnya sekitar 40-an … hmm kira-kira seumuran
tante-tante saya di Bendungan Hilir – memang dokternya teman salah
satu tante saya :)) -. Setelah lihat-lihat map saya, akhirnya ia
bertanya :
“Ada
keluhan apa, Auliah ?”
“Jerawat
dok … mau dihilangkan!”
Sambil
lihat map lagi … “Hmm, usia masih 22 tahun ya … ga pa pa, wajar
kok .. biarin aja .. nanti sembuh sendiri … jerawat kamu ga parah
kok“
Sambil
geleng-geleng kepala “Yang gemuk pengen kurus, yang kurus pengen
gemuk… perempuan itu aneh .. manusia itu aneh …”
Saya
hanya nyengir kuda. Tidak lama kemudian datang mahasiswa kedokteran
yang kuliah lagi ambil spesialis. Disini saya mulai ga demem. Paling
ga suka ditontonin sama koas (seingat saya, istilah untuk dokter yang
spesialis).
“Ada
keturunan ?” tanya dokter lagi.
“Ada
dok, dari pihak Bapak. Dokter kenal yang tinggal di gang 10 ? itu
keluarga Bapak.”
Sambil
mengangguk, ia menyenderkan badan ke kursi.
Dokter
kulit ini kenalan tante saya yang nomor 3 dan tinggal di Bendungan
Hilir Gg. 10.
“Dimuka
kamu ada bekas jerawat, suka dipencet-pencet ?”
Dengan
semangat saya jawab …
“Enggak
kok dok ….”
“Lho,
ada luka parutnya …”
Sambil
mengernyitkan dahi … “Tapi dok, saya ga pernah pencet-pencet
deh…”
“Suer
deh”, kataku dalam hati.
Lapnya
Seperti Tante Genit
“Begini
Auliah …
Cara
melap muka yang ada keringatnya, jangan digosok-gosok, jangan
keras-keras. Lemah lembut aja, seperti ini …. sambil mengambil
tissue ditepuk-tepuknya dengan lembut ke muka”.
Saya
melihatnya tertawa dalam hati dan berkata “Kayak, becandaan saya
dan teman-teman sewaktu kecil, kalau ngatain tante genit sewaktu
melap mukanya yang kena keringat” :)).
“Terus
… “, katanya lagi. “Pake tissue yang lembut, habis itu langsung
buang, ga boleh disimpan. Tidak boleh pake handuk, saputangan, pake
tissue, langsung buang”.
Wah
… rugi bandar … !!!
“Kenapa
pake tissue sekali pake ?”, tanyaku menyelidik.
“Karena
… tidak tercemar sama kuman, debu, kotoran. Menyimpan handuk
biasanya ditas, udah penuh kotoran. Tissue dipegang-pegang, berada
diruang terbuka yang banyak debunya .. terus dilap lagi ke muka ..
bukannya tambah bersih malah tambah kotor”.
Waduh
… berapa helai tissue dalam sehari, sebulan, setahun yang akan
dihabiskan dan berapa uang yang harus keluar … waaaahhhh!!!
Saputangan
… handuk … ?!!
“Jangan
lupa, tidak boleh menyentuh wajah dengan tangan, karena disana juga
banyak kuman, bakteri, kotor, udah bekas pegang sana sini”.
Makan
Rebus-rebusan
“Terus
… Auliah ga boleh makan berminyak, coklat, susu berlemak, santan,
goreng-gorengan, pedes-pedesan, kacang-kacangan …!!”
Sebelum
daftarnya tambah panjang, saya cut ….
“Jadi,
dok …. saya hanya makan rebus-rebusan ?”
Dokter
mengangguk
MATI
AKU !!
“Tapi
dok, saya kan orang Padang, ga lepas dari makanan begituan …”
“Auliah
mau sembuh tidak ?!”
Saya
pun terdiam.
Sebenarnya
bukan masalah orang Padang atau tidak … Sebenarnya ga tega
memberatkan Ibu untuk mikirin menu tambahan.
“Iya
deh dok, saya akan coba…”
“Sementara
segitu dulu. Auliah punya alergi obat ?”
“Tidak
dok. Saya punya maag”
Sambil
menulis di kertas resep.
“Saya
kasih antibiotik, makannya harus sampai habis dan vitamin A. Dua
minggu lagi kamu kesini”
“Baik,
dokter”
Selama
saya disana, sesekali saya melirik empat orang koas Trisakti. Terus
terang aja, semenjak datangnya 2 orang wanita dan 2 orang laki-laki
calon dokter spesialis itu, udah ga nyaman. Saya sih maunya ga ada
yang boleh dengerin percakapan kami berdua.
Saya
keluar sebelumnya bilang permisi, terima kasih kemudian menembus
obat.
Setelah
sampai dirumah, saya bilang ke ibu bahwa dokter melarang hal diatas.
Ibu gembira dan antusias. Saya sendiri, mula-mula, agak berat ya …
hambar tapi lama-lama biasa kok.
Efek
pelarangan itu, yang paling terasa sampai sekarang … saya jadi ga
begitu suka pedas. Bila orang bilang ga pedas, saya bilang pedas
sekali. Kalau beli nasi goreng, mie goreng, ketoprak, gado-gado sudah
menjadi kebiasaan bilang ke tukangnya “Pak, minyaknya dikurangi,
kalau bisa ga usah pake minyak goreng :D, terus cabenya yang sedang
atau cabenya 1 buah aja or tidak pake lada”. Kalau bubur ayam,
biasanya ga pake sambel, ga pake kacang. Jadi cerewet amat … :))
Kilang
Minyak
Dua
minggu kemudian, datang lagi…
Koasnya
udah pada datang.
“Pagi,
dok …” sambil melirik para koas dan memberi senyum kepada mereka.
Wah ada yang cakep nih…
“Pagi,
Auliah …”
“Obatnya
sudah dihabiskan ?”
Saya
mengangguk
“Dok,
muka saya terlalu berminyak. Menghilangkannya gimana ?”
“Kayak
kilang minyak donk … :)”
Iiih,
orang nanya serius malah becanda.
“Bukannya
bagus, awet muda tapi memang perawatannya harus ekstrak karena muka
jenis ini gampang sekali kotor apalagi rumah Auliah jauh” dengan
nada kembali serius.
“Auliah,
sholat ?”
“Iya,
Bu”
“Kalau
sholat, mukanya dibasuh pake apa?”
“Pake
air doang …”
“Pake
air dan sabun. Sabunnya harus yang ph balance. Kalau perlu pake sabun
bayi. 5 kali sholat 5 kali cuci muka pake sabun tidak boleh air saja.
Jika membersihkan make up pun, harus benar-benar bersih… terserah
Auliah apakah pake pembersih, astringen kemudian cuci lagi dengan
sabun bayi atau ph balance. Dan jangan lupa kalau mau tidur, cuci
muka juga ya …. Tahu kan yang Ph balance, banyak kan yang dijual”.
“Tahu
dok …. Baik dok”.
Banyak
“JANGAN”nya
“Jangan
stress, ga boleh banyak pikiran … nyantai aja”.
“Jangan
punya poni. Keramas setiap hari. Karena rambut itu juga kena debu,
kotoran, asap knalpot. Apalagi rumah auliah kan jauh. Harus diikat
rambutnya, dibando … pokoknya diusahakan rambut jangan menyentuh
wajah. Dan sekali lagi, jangan menyentuh wajah. Jangan melap muka
dengan tangan”.
Sambil
dengerin petuah sang dokter, sesekali melihat para koas yang dari
tadi cuma jengar-jengir. Hmm … si ganteng mesem-mesem aja :)).
Kesimpulan
dari semua itu … saya harus bersih … bersih … bersih … dan
bersih.
Udah
selesai konsultasi, dikasih antibiotik dan vitamin A, disuruh balik
lagi 2 minggu lagi.
Beberapa
minggu kemudian obat antibiotik mulai dikurangi pemakaian. Tapi
takaran vitamin A masih seperti diawal sewaktu ke dokter.
Bekas
Jerawat
Bulan
ke tiga. Saya bertanya bagaimana cara menghilangkan bekas jerawat.
Jawabannya seperti ini :
“Biarkan
saja, nanti juga hilang sendiri”
Saya
pun tercengang, ga lama kemudian tanya lagi …
“Berapa
lama dok ?”
“Bisa
berminggu-minggu, berbulan-bulan”
Again,
tercengang lagi ….
Aduh
… sebenarnya saya ga nyangka kalau jawabannya seperti itu …
nyantai minah…
Menurut
dokter wajah saya sudah mendingan kemudian dilakukan pembakaran (lupa
namanya apa). Maksudnya mengeluarkan lemak-lemak yang bisa
menimbulkan jerawat atau apa lah namanya … Auliah ga ngerti, pokoke
pasrah deh … Udah selesai, muka kayak udang rebus. Kasihan deh
muka, kata dokter, ga boleh kena sinar matahari. Terus dikasih salep,
vitamin A dan antibiotik.
Beberapa
kali dibakar dan sudah berjalan 8 bulan pengobatan, akhirnya Auliah berhenti karena kasihan wajah selalu
jadi korban penderitaan.
Dan
akhirnya …. kalau udah jerawat …. ya jerawat aja …. entar
sembuh sendiri ….:D … tul ga !!!