Menjadi PEMIMPIN itu sangat sulit, baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain. Manusia selalu ingin menjadi MULIA di mata Tuhan dan selalu berusaha mencapainya sampai akhir hayat.
<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>
Sangat
menyebalkan bila semua orang menganggap bahwa saya tidak pernah
berbohong alias terlalu jujur, tidak ada tampang jahat, terlalu baik,
tidak pernah bandel, dll. Padahal saya sama seperti mereka, punya
kenakalan remaja dan luar biasa bandel diwaktu kecil. Manusia itu
tidak ada yang sempurna, bukan?
Saya
hanya bisa mengernyitkan dahi bila teman-teman berkata seperti. Sebesar
apa mereka tahu kehidupan saya dimasa lampau dan pada saat itu ?
Memang saya tidak pernah membohongi mereka selama 3 tahun berteman.
Dan saya bukan kristal yang selalu dijaga jangan sampai jatuh dan
terluka.
Akhirnya
ada kesempatan untuk membuktikan bahwa saya bisa berbohong dan nakal.
Ada PR Geografi, membuat gambar berwarna lapisan bumi dikertas
karton. Pada saat itu saya baru saja dari ruang guru untuk suatu
keperluan dan tidak melihat Pak Endang, guru Geografi kami karena
pelajaran selanjutnya adalah beliau. Setelah selesai dengan urusan
saya, keluar dari ruang guru, saya berpikir tentang suatu rencana
mengerjain teman-teman sekelas. Sesampainya didalam kelas – deg-degan,
harap-harap cemas –, keluarlah kalimat, “Teman-teman, PR
Geografinya dikumpulkan. Kata Pak Endang terlambat masuk”. Dan
hebohlah isi kelas, langsung sebagian besar teman-teman buru-buru membereskan
PR yang belum selesai. Ada yang minta tolong ini dan itu dengan yang
lain, pinjam ini dan itu… Ada yang tanya ulang ke saya, apakah
benar dikumpulkan dan Pak Endang udah ada di ruang guru. Saya bilang
aja “Telat, sebentar lagi datang, PRnya dikumpulkan”. Pokoknya
ribut sekali …. Didepan kelas, saya menahan ketawa – ketahuan ga
ya senyumnya – melihat kelakuan sebagian besar teman. Untung saya
sudah mengerjakan PR.
Ada
1 teman -laki-laki, mantan ketua kelas, anak paling pintar- yang tahu
saya berbohong. Dipanggil saya keluar kelas.
Ex
Ketua Kelas : “Auliah, kesini sebentar …”
Auliah : “Ada apa?”
Ex
Ketua Kelas :”Mau tanya, sebenarnya Pak Endang itu tidak menyuruh
mengumpulkan PR, iya kan?”
Auliah : “Benar, memang dikumpulkan…”
Ex
Ketua Kelas : “Saya tahu kamu, kamu tidak pernah bohong dan tidak
bisa bohong. Tatap mata saya, auliah. Benar dikumpulkan PRnya ?!!”
Saya
tatap matanya. Aduh, ketahuan nih. Dan akhirnya saya tersenyum.
Auliah : “Memang tidak benar dikumpulkan dan Pak Endang tidak menyuruh.
Tapi walaupun tidak disuruh, kan kalau beliau datang tetap
dikumpulkan, bukan?. Dari pada kelabakan nanti lebih baik kelabakan
sekarang. Benar kan?”
Sambil
menerangkan, saya sambil tertawa.
Ex
Ketua Kelas : “Ga lucu aul …. Tapi tidak boleh aul … doang …
aza …!!” -Gemes-
Auliah : “Tapi kamu sudah selesai tidak PRnya?”
Ex
Ketua Kelas : “Sudah..”
Auliah : “Ya, udah. Tapi jangan bilang-bilang ke teman-teman. Biarkan saja. OK. Kamu
baik deh.. :)”
Ex
Ketua Kelas : “Tapi jangan diulangin lagi”
Sambil
tersenyum, saya mengangguk kepala.
Setelah
selesai semua. Mereka mengumpulkan PR ke Ketua Kelas dan saya bantuin
membawa karton ke ruang guru. Melewati ruang perpustakaan, saya ga
tahan untuk ngomong terus terang sama Ketua Kelas.
Auliah : “Sebenarnya, PRnya ga disuruh dikumpulkan dan Pak Endang ga ada”
Ketua
Kelas berhenti berjalan dan melihat saya. Dan tiba-tiba dia membuang
semua karton ditangannya. Saya kaget.
Auliah : “Kok dibuang, sih …, ambil … ambil …”.
Ketua
Kelas : “Kamu ini gimana sih .. ngerjain ya … booong …. Ga mau
… Auliah ambil sendiri”
Auliah : “Ambil donk, ga benar disuruh dikumpulkan sama Pak Endang”
Ketua
Kelas : “Benar nih … dikumpulin?”
Auliah : “Suer!!”
Saya
bantuin ambil karton yang terbuang dan kami berjalan ke arah ruang
guru dan Pak Endang sudah ada disitu. Dengan wajah kaget, beliau
menatap kami.
Auliah : “Pak, ini PRnya, ditaruh dimana?”
Masih
menunjukkan muka kaget, beliau berkata “Dimeja Bapak”.
Ketua
Kelas : “Pak, memang PRnya dikumpulkan?”
Auliah : “Iya, kan Pak dikumpulin?”
Pak
Endang : “Eh, iya .. iya …, tapi nanti aja, Bapak juga mau ke
kelas”
Ooo,
kata Ketua kelas. Buru-buru kami keluar dari ruang guru menuju kelas
setelah memohon izin pamit. Selama dalam perjalanan, saya bilang ke
Ketua Kelas, Pak Endang memang tidak menyuruh dikumpulin PRnya. Ketua
Kelas berhenti lagi “Ahhhh, Auliah .. gimana sih … Awas nih kita
bilangin ke teman-teman”. Kata saya, “Bilangin aja .. ga takut”.
Langsung Ketua Kelas mempercepat jalannya ke kelas yang jaraknya
sudah dekat, begitu pun saya. Dan keluarlah suara ‘huuuu’ dari mulut
mereka dan saya cuma cengar-cengir. Puas saya dan PUAS. Akhirnya
kristalpun cacat.
Beberapa
waktu kemudian, ada PR lagi dan saya disuruh Bu guru memberitahukan
teman-teman agar pekerjaannya dikumpulkan tapi teman-teman ga percaya lagi sama
saya walaupun saya udah pake SUERRRR, AULIAH GA BOOONG , BENARAN nih.
Tidak lama kemudian Bu Guru datang dan menanyakan PR apakah sudah
dikumpulkan. Dan melihat hanya beberapa buku di mejanya, marahlah
beliau dan menanyakan ke saya, apakah sudah dikasih tahu. Saya
mengangguk, “Sudah Bu, tapi ga ada percaya”. Dengan nada marah
“KUMPULKAN PRNYA !!!!”.
Dan
saya tersenyum ke ex ketua kelas dengan penuh arti.
Nah,
bisakan diambil hikmahnya …