Menjadi PEMIMPIN itu sangat sulit, baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain. Manusia selalu ingin menjadi MULIA di mata Tuhan dan selalu berusaha mencapainya sampai akhir hayat.
<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>
Gampang.
Kalau mau ulangan, dihapalinnya jauh-jauh hari. Misalnya guru ngasih
pengumuman hari Jum’at, jumlah halaman yang harus dihapal 10 halaman
dan ulangannya 1 minggu kemudian. Malam harinya, kita belajar untuk
yang besok hari, setelah selesai semua berberes, kita hapalin halaman
1 pelajaran yang minggu depan mau ulangan, sampai hapal. Besok
harinya halaman 1 diulang lagi baru halaman ke 2, sampai hapal.
Lusanya halaman 1 & 2 diulang lagi kemudian ke halaman 3 sampai
hapal. Begitu seterusnya sampai hari ke 6. Alhasil pas hari Hnya,
ngelotok deh dan dijamin semua pertanyaan soal ulangan pasti terjawab
semua. Kalau jumlah halamannya banyak, bagi sendiri aja ya .. berapa
halaman dalam 1 hari untuk dihapal.
Resep
yang diatas atas saran dari teman sebangku, katanya dia lemah
dihapalan dan menurut saya jago dihitungan. Waktu dia tanya “Auliah
udah hapalan pelajaran A, tidak?, saya sudah donk, tapi halaman 1
saja”. Bangga lho dia. Saya kaget terus saya bilang “Kan
ulangannya baru minggu depan, hapalinnya nanti aja”. Kata dia lagi,
“Lebih baik hapalin sekarang, dicicil, jadi pas dekat harinya kita
ga kelabakan”. Hmm .. saya pikir benar juga, hapalannya juga banyak
banget. Untuk hapalan hitung-hitungan, caranya sama untuk menghapal
rumus tapi untuk prosedur harus sering latihan dengan cara mengganti
angka-angka. Tapi untuk hitung-hitungan tetap saya ga gape, cuma
hapal rumusnya, lain dikit aja .. udah bingung.
Hasilnya
ulangannya bagus terus dan saya dapat rangking 3 dengan nilai
rata-rata 8.25. Lumayan .. coba saya jago juga di ilmu eksakta ..
rangking 1 kali ya …. Seingat saya, waktu itu rangking 1 nilainya
rata-rata 9,8; 2 orang rata-rata 9 untuk rangking 2 dan rangking 3
ada 3 orang.
Kalau
PR, saya selalu mengerjakan sehabis pulang sekolah, habis sholat,
makan, gantiin bapak di toko. Apakah PRnya untuk lusa, 3 hari lagi,
minggu depan apalagi untuk esok harinya pasti langsung dikerjakan.
Jadi ga buru-buru … mikirnya lebih tenang dan hasilnya lebih bagus.
Setelah selesai semua PR .. BEBAS … Itu peraturan baku ortu kalau
ga dijalanin dimarahin.
Kelihatannya
seperti berkutat terus dengan buku ya .. Tapi saya gaul kok .. saya
punya kehidupan sosial juga, juga suka main ke rumah teman …
Percuma kalau kita belajar melulu kalau ga gaul .. ihhh makhluk apa
itu ….
Nah,
yang diatas waktu SMP. Gimana SMA ?… amburadul sekali .. kebetulan
saya ga mau sekolah disitu … saya ogah-ogahan … tapi saya bisa
dikasih 3 pilihan .. mau masuk IPA, IPS or Sastra, waktu itu rata2 7.
Saya ga suka semua .. kalau pun suka cuma 1 or 2 pelajaran. Akhirnya
saya pilih IPS, karena jarang ketemu matematika -gurunya galak- tapi
ketemu akuntansi…. gpp .. udah biasa .. alhasil saya belajar
akuntansi 5 tahun, 3 tahun di SMP dan 2 tahun di SMA tapi tetap aja
ga mudeng, bisanya uang keluar dan keluar masuk, lagipula uangnya ga
ada … coba ada, jadi semangat deh belajarnya .. hehehehehe. Kalau
pilih IPA, ketemu matematika, hapalan bahasa latin dan operasi
binatang .. ihhh bauu amis. Kalau sastra, saya ga suka terlalu sering
ketemu pelajaran BAHASA. Ketemu Perancis di IPS seminggu 5 kali udah
bete apalagi 6 hari dan 1 hari bisa 2 kali ketemu. Beberapa mata
pelajaran bisa ulangannya bisa setiap hari, sialnya soalnya rata-rata
cuma 2 buah.
Saya
jarang menerapkan cara yang diSMP, ½ males, ½ ga
konsentrasi … udah ga minat sama rangking tapi tetap minat naik
kelas … Tapi saya tetap kalau buat PR buatnya jauh-jauh hari. Yang
jelas STTB saya bagus, pas angka 7
<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>
Kenal
kata hati ? Percaya kah ? Kalau saya antara percaya dan tidak tapi
herannya kata hati selalu benar. Ketahuannya bila terbukti. Yang
paling sederhana adalah menjawab soal pilihan ganda. Waktu masih
sekolah sering sekali kata hati harus pilih A tapi otak bilang C.
Saya pilih C. Buktinya benar jawabannya A. Menyesal sekali. Berulang
kali terjadi tapi saya tetap ga nurut sama kata hati. Tinggal
menyesal saja “Kenapa ga pilih A, ya”
Tapi
untuk perbuatan baik dan buruk, saya menurut. Iya …lah mana ada sih
tidak melakukan sesuatu yang jelas-jelas itu buruk dan melakukan
bahwa itu jelas-jelas baik. Dan otak pun sinkron dengan kata hati.
Yang berabe kan otak dan kata hati bertolak belakang, itu yang repot.
Untuk
jodoh, pernah kata hati saya “inilah orangnya yang saya cari …”
Tapi berjalannya waktu … ga sreg … Sampai saat ini kata hati saya
tidak pernah bilang apa-apa lagi. Menyedihkan.
Yang
paling seru, kata hati bilang ada sesuatu yang tidak beres dengan si
A, secara tiba-tiba muncul perasaan tidak enak dan kata hati bilang
“telepon, itu ada wartel … telepon … ada sesuatu yang tidak
beres dengan si A”. Tapi otak bilang “engga ahh, baru nelepon, ga
ada apa-apa”. Tapi kata hati ini bawel terus sampai akhirnya si A
telepon pada malam harinya “Bapak saya meninggal. Saya ada di
Bandar”. Saya terkejut tapi bukan karena bapaknya meninggal tapi
karena benar kata hati.
Untuk
kesekian kali kata hati benar. Terlalu banyak kata hati berbicara.
Terlalu banyak kebenaran. Apakah 1 kali kata hati berkata saya akan
langsung menurutinya ? Apakah perlu kata hati memukul saya sehingga
mengerti dan tidak perlu diulang-ulang perkataannya ? Maaf, kalau
saya tidak menurut …
&amp;lt;!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–&amp;gt;
3
tahun yang lalu saya pernah kena tipus dan menurut dokter bahwa
penyakit tipus timbul bukan karena kecapean. Saya terkena penyakit
tersebut karena daya tahan tubuh pada saat itu sangat menurun dan
makan makanan yang tidak terjamin kebersihannya. Jadi kalau lagi
musim tipus, jangan jajan sembarangan, cuci tangan yang bersih, kalau
ada binatang yang sudah mencicipi makanan kita buang saja dan
tutuplah makanan bila kita belum mau memakannya. Walaupun ga musim
tipus, tetap jangan jajan sembarangan dan jaga kebersihan makanan.
Dibawah
ini keterangan penyakit tersebut yang diambil dari majalah Sedap
Sekejap Edisi 4/III/2002 di bagian Konsultasi Gizi oleh Sitawati,
D.cn.
Salam
sejahtera Ibu Sita,
Ibu
Sita yang baik, saya baru saja sembuh dari sakit tipus dan sekarang
dalam masa penyembuhan. Sejak sakit sampai sekarang, selera makan
saya turun dratis sekali. Saya cepat sekali menjadi lelah dan tidak
bertenaga jika melakukan kegiatan. Padahal sebelum sakit, saya
dijuluki “power girl”. Saya sekarang berumur 29 tahun dan tinggi
badan 155 cm dan berat 35 kg, kurus sekali, kan, Bu ?
Yang
ingin saya tanyakan, makanan dan minuman yang bagaimana yang cocok
dan makanan apa pula yang harus saya pantangi untuk mengembalikan
nafsu makan saya sehingga menjadi gemuk dan sehat ? Apakah minum susu
full cream + madu (tanpa gula) sebelum tidur cepat mengembalikan
berat badan saya? Apakah tipus bisa kambuh lagi jika pola makan saya
salah? Mohon penjelasan dari Ibu.
Oh
ya, saya punya riwayat sakit asma sewaktu kecil dan kadang-kadang
kambuh jika udara penuh asap kabut sewaktu kemarau seperti
waktu-waktu lalu. Syukur tidak parah sampai perlu dirawat di rumah
sakit. Selain asma, saya juga menderita tukak lambung yang sering
kambuh jika saya stres dan kelelahan.
Demikian
surat saya dan atas perhatian Ibu saya ucapkan terima kasih.
Grace
S.N., S. Hut
Grace
yang baik,
Semoga
dapat segera kembali ke kondisi semula sebelum sakit. Di bawah ini
saya akan mencoba menjelaskan sedikit tentang penyakit tifoid. Tifoid
atau biasa disebut dengan demam tifoid adalah suatu infeksi bakterial
yang mencakup seluruh tubuh, terutama pada usus halus.
Penyakit
ini menular melalui air dan makanan yang tercemar oleh air seni dan
kotoran penderita tifoid. Ada penderita yang sudah mendapat
pengobatan, tetapi di dalam air seni dan kotorannya masih mengandung
bakteri. Penderita ini disebut sebagai pembawa (carrier) dan dapat
menularkan penyakit pada orang lain, atau melalui lalat, kecoa, juga
tikus.
Penyakit
tipus mempunyai gejala antara lain :
Penderita
tipus dapat mengalami komplikasi perdarahan pada usus halus dan usus
halus berlubang, infeksi paru, infeksi empedu. Malangnya pula
penyakit ini dapat kambuh sesudah 2 minggu pemberian antibiotik.
Pencegahan
:
Grace,
rasa lelah dan tidak bertenaga dapat disebabkan oleh selera makan
yang turun drastis sekali, kurang masukkan makanan/zat-zat gizi yang
diperlukan tubuh. Dengan berat badan 35 kg Anda akan tampak turun
sekali. Cobalah untuk sedikit memaksakan diri untuk makan agar
kebutuhan tubuh akan zat-zat gizi dapat terpenuhi. Tentu memang
sedikit susah, tetapi cobalah makan dengan porsi kecil dengan
frekwensi yang sedikit sering. Pilihlah makan yang tidak merangsang
(pedas, asam) hindari makanan terlalu berlemak (tart, jeroan, usus,
babat, dll), makanan yang bergas (nangka, nanas, ubi, ketan dsb).
Minum
susu sebelum tidur boleh saja, tetapi untuk mengembalikan berat badan
yang penting adalah meningkat nafsu makan. Karena meskipun minum susu
sebelum tidur, tetapi jika tidak makan dengan teratur, berat badan
Anda tidak akan bertambah.
Dengan
pola makan yang tidak teratur dan menyantap makanan yang kurang
bersih, tentunya dapat memunculkan tipus kembali.
Jumlah
BM sehari yang dapat dikonsumsi +
2500 kal.
Bahan
makanan yang baik dikonsumsi :
Beras,
tepung beras, sagu, ayam, ikan, telur, daging, susu, tahu, tempe,
pepaya, pisang, bayam, wortel, labu siam dll
Hindari
:
Singkong,
ubi, kentang, dendeng, corned, sardines (makanan awetan), tape,
nanas, nangka, daun singkong dll yang bertekstur kasar.
Maag & Obat Antibiotik
Sakit itu tidak menyenangkan, menyebalkan dan merepotkan. Apalagi sakit itu sudah sangat parah, terus kita harus hati-hati makan sesuatu. Pantang ini .. Pantang itu.
Saya kena maag waktu kelas 3 SMP. Saya ga tahu kalau telat makan kemudian makan banyak banget menyebabkan perut melilit itu adalah maag. Awal-awal ga begitu parah. Terus waktu kerja, muncul lagi ditambah banyak pikiran. Kata dokter, maag itu ada dua jenis yaitu maag yang disebabkan karena salah makan dan maag karena pikiran. Kalau saya bisa kedua-duanya. Tapi keseringan telat makan dan salah makan juga.
Untuk obat, harus hati-hati meminum obat antibiotik. Pengalaman pribadi saya, obat antibiotik itu membuat mual, mau muntah dan kalaupun terpaksa makan obat tersebut, dokter akan memberikan takaran yang rendah. Alhasilnya lama sembuhnya.
Waktu saya operasi usus buntu, dokter memberitahukan urutan obat yang terlebih dahulu dikonsumsi. Kalau tidak salah ingat antibiotik diurutan terakhir. Kalau tidak sesuai urutan saya akan mual, muntah dan tidak bagus untuk jahitan diperut yang masih basah. Wah.. saya ga mau lagi dijahit dan operasi lagi. Lagi pula ga enak, mual dan ingin muntah, rasa sakit sehabis dioperasi masih terasa.
Waktu kena penyakit tipuspun, saya membutuhkan kesembuhan 3 minggu dan istirahat kurang lebih 3 bulan plus tidak boleh kerja berat, tidak boleh banyak pikiran, kalau perlu ga usah ke kantor. Jadi tidak seperti orang lain, yang sembuhnya cuma seminggu or kurang. Saya diberi obat antibiotik dengan takaran yang rendah. Kalau antibiotik menimbulkan efek sampingnya muntah dan mual, saya harus buru-buru ke dokter untuk mengganti obat antibiotik dengan merk lain sampai ketemu antibiotik yang ramah dengan lambung saya.
Saya pernah baca juga, maag yang parah bisa komplikasi ke organ yang lain, misalnya jantung. Bahkan bisa meninggal dunia.
Jadi kalau sakit, saya takut.
Segitu dulu. Sakit itu memang tidak menyenangkan … Jadi jangan telat makan. Sehat itu sangat berharga.
&amp;amp;amp;lt;!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–&amp;amp;amp;gt;
Sangat
menyebalkan bila semua orang menganggap bahwa saya tidak pernah
berbohong alias terlalu jujur, tidak ada tampang jahat, terlalu baik,
tidak pernah bandel, dll. Padahal saya sama seperti mereka, punya
kenakalan remaja dan luar biasa bandel diwaktu kecil. Manusia itu
tidak ada yang sempurna, bukan?
Saya
hanya bisa mengernyitkan dahi bila teman-teman berkata seperti. Sebesar
apa mereka tahu kehidupan saya dimasa lampau dan pada saat itu ?
Memang saya tidak pernah membohongi mereka selama 3 tahun berteman.
Dan saya bukan kristal yang selalu dijaga jangan sampai jatuh dan
terluka.
Akhirnya
ada kesempatan untuk membuktikan bahwa saya bisa berbohong dan nakal.
Ada PR Geografi, membuat gambar berwarna lapisan bumi dikertas
karton. Pada saat itu saya baru saja dari ruang guru untuk suatu
keperluan dan tidak melihat Pak Endang, guru Geografi kami karena
pelajaran selanjutnya adalah beliau. Setelah selesai dengan urusan
saya, keluar dari ruang guru, saya berpikir tentang suatu rencana
mengerjain teman-teman sekelas. Sesampainya didalam kelas – deg-degan,
harap-harap cemas –, keluarlah kalimat, “Teman-teman, PR
Geografinya dikumpulkan. Kata Pak Endang terlambat masuk”. Dan
hebohlah isi kelas, langsung sebagian besar teman-teman buru-buru membereskan
PR yang belum selesai. Ada yang minta tolong ini dan itu dengan yang
lain, pinjam ini dan itu… Ada yang tanya ulang ke saya, apakah
benar dikumpulkan dan Pak Endang udah ada di ruang guru. Saya bilang
aja “Telat, sebentar lagi datang, PRnya dikumpulkan”. Pokoknya
ribut sekali …. Didepan kelas, saya menahan ketawa – ketahuan ga
ya senyumnya – melihat kelakuan sebagian besar teman. Untung saya
sudah mengerjakan PR.
Ada
1 teman -laki-laki, mantan ketua kelas, anak paling pintar- yang tahu
saya berbohong. Dipanggil saya keluar kelas.
Ex
Ketua Kelas : “Auliah, kesini sebentar …”
Auliah : “Ada apa?”
Ex
Ketua Kelas :”Mau tanya, sebenarnya Pak Endang itu tidak menyuruh
mengumpulkan PR, iya kan?”
Auliah : “Benar, memang dikumpulkan…”
Ex
Ketua Kelas : “Saya tahu kamu, kamu tidak pernah bohong dan tidak
bisa bohong. Tatap mata saya, auliah. Benar dikumpulkan PRnya ?!!”
Saya
tatap matanya. Aduh, ketahuan nih. Dan akhirnya saya tersenyum.
Auliah : “Memang tidak benar dikumpulkan dan Pak Endang tidak menyuruh.
Tapi walaupun tidak disuruh, kan kalau beliau datang tetap
dikumpulkan, bukan?. Dari pada kelabakan nanti lebih baik kelabakan
sekarang. Benar kan?”
Sambil
menerangkan, saya sambil tertawa.
Ex
Ketua Kelas : “Ga lucu aul …. Tapi tidak boleh aul … doang …
aza …!!” -Gemes-
Auliah : “Tapi kamu sudah selesai tidak PRnya?”
Ex
Ketua Kelas : “Sudah..”
Auliah : “Ya, udah. Tapi jangan bilang-bilang ke teman-teman. Biarkan saja. OK. Kamu
baik deh.. :)”
Ex
Ketua Kelas : “Tapi jangan diulangin lagi”
Sambil
tersenyum, saya mengangguk kepala.
Setelah
selesai semua. Mereka mengumpulkan PR ke Ketua Kelas dan saya bantuin
membawa karton ke ruang guru. Melewati ruang perpustakaan, saya ga
tahan untuk ngomong terus terang sama Ketua Kelas.
Auliah : “Sebenarnya, PRnya ga disuruh dikumpulkan dan Pak Endang ga ada”
Ketua
Kelas berhenti berjalan dan melihat saya. Dan tiba-tiba dia membuang
semua karton ditangannya. Saya kaget.
Auliah : “Kok dibuang, sih …, ambil … ambil …”.
Ketua
Kelas : “Kamu ini gimana sih .. ngerjain ya … booong …. Ga mau
… Auliah ambil sendiri”
Auliah : “Ambil donk, ga benar disuruh dikumpulkan sama Pak Endang”
Ketua
Kelas : “Benar nih … dikumpulin?”
Auliah : “Suer!!”
Saya
bantuin ambil karton yang terbuang dan kami berjalan ke arah ruang
guru dan Pak Endang sudah ada disitu. Dengan wajah kaget, beliau
menatap kami.
Auliah : “Pak, ini PRnya, ditaruh dimana?”
Masih
menunjukkan muka kaget, beliau berkata “Dimeja Bapak”.
Ketua
Kelas : “Pak, memang PRnya dikumpulkan?”
Auliah : “Iya, kan Pak dikumpulin?”
Pak
Endang : “Eh, iya .. iya …, tapi nanti aja, Bapak juga mau ke
kelas”
Ooo,
kata Ketua kelas. Buru-buru kami keluar dari ruang guru menuju kelas
setelah memohon izin pamit. Selama dalam perjalanan, saya bilang ke
Ketua Kelas, Pak Endang memang tidak menyuruh dikumpulin PRnya. Ketua
Kelas berhenti lagi “Ahhhh, Auliah .. gimana sih … Awas nih kita
bilangin ke teman-teman”. Kata saya, “Bilangin aja .. ga takut”.
Langsung Ketua Kelas mempercepat jalannya ke kelas yang jaraknya
sudah dekat, begitu pun saya. Dan keluarlah suara ‘huuuu’ dari mulut
mereka dan saya cuma cengar-cengir. Puas saya dan PUAS. Akhirnya
kristalpun cacat.
Beberapa
waktu kemudian, ada PR lagi dan saya disuruh Bu guru memberitahukan
teman-teman agar pekerjaannya dikumpulkan tapi teman-teman ga percaya lagi sama
saya walaupun saya udah pake SUERRRR, AULIAH GA BOOONG , BENARAN nih.
Tidak lama kemudian Bu Guru datang dan menanyakan PR apakah sudah
dikumpulkan. Dan melihat hanya beberapa buku di mejanya, marahlah
beliau dan menanyakan ke saya, apakah sudah dikasih tahu. Saya
mengangguk, “Sudah Bu, tapi ga ada percaya”. Dengan nada marah
“KUMPULKAN PRNYA !!!!”.
Dan
saya tersenyum ke ex ketua kelas dengan penuh arti.
Nah,
bisakan diambil hikmahnya …
Sekitar tahun 1985-1986, ada penjual mie ayam gerobak dorong dengan tulisan Pak Kumis di dekat pasar Tebet Barat, tepatnya disamping Jl. Tebet Barat Dalam VIII (hurufnya lupa). Kalau saya pulang dari pasar, pasti saya melewati penjual tersebut. Waktu itu rumah saya di Jl. Tebet Barat Dalam VIII F dan masih kelas 5 SD. Penjualnya sepasang suami istri dari Jawa. Rasa mie ayamnya sangat enak … bahkan terlalu enak. Seperti mie ayam lainnya, diberi tambahan daging ayam, sawi, pangsit goreng, dan bakso yang juga enak. Dalam 1 - 2 kali dalam seminggu kami sekeluarga membeli mie ayamnya. Harga pada saat itu sekitar Rp. 500,-. Setelah sekian lama mereka berjualan harganya naik bertahap sampai harga menjadi Rp. 1.000,-. Karena sering membeli mie mereka, Ibu dan Pak Kumis sampai hafal dengan saya dan 2 adik yang sering dibawa untuk membeli mie ayam mereka. Kadang-kadang pangsit
goreng dan baksonya suka mereka tambahin.
Setelah ramai, mereka pindah ke tempat yang lebih permanen tidak jauh dari lokasi yang lama. Rasanya masih tetap enak. Dan kami tetap dengan pola yang sama, 1 – 2 kali dalam seminggu membeli mie mereka dan kadang-kadang pangsit goreng dan baksonya suka ditambahin oleh mereka.
Tahun 1988, saya pindah rumah ke Bekasi Timur tapi sekolah masih di SMPN 73 Tebet Timur. Saya sudah jarang makan mie ayam Pak Kumis walaupun saya sering lewat didepan kios beliau. Jualannya tambah ramai dan sudah
punya motor sendiri. Pernah papasan dengan ibunya atau Pak Kumis dan mengajak saya mampir … hmmm … saya pikir … bolehlah, mengobati kangen … Dan biasanya sambil beliau mengolah mie ayam, saya perhatikan caranya. Beliaupun bertanya “Kenapa jarang makan disini lagi ?”, Kata saya, “Sudah pindah ke Bekasi, tapi sekolah saya masih di sini dan bolak-balik Tebet Bekasi”.
Setelah pindah SMA ke Bekasi. Pada suatu hari, saya main ke Pasar Tebet Barat, menyempatkan mampir ke Mie Ayam Pak Kumis … tetap masih ramai, lebih maju dan ibunya masih tetap kenal sama saya. Beliau senang sekali melihat saya. Katanya saya sudah semakin besar dan sudah ga pernah makan disini lagi. Saat itu tidak melihat Pak Kumis, mungkin sibuk. Saya lupa menanyakan ke mereka apakah sudah punya cabang?. Saya makan disitu tapi sayang sudah tidak ada pangsit goreng dan rasanya sudah tidak seenak dulu, juga baunya aneh. Saya kecewa.
Saya membawa 5 bungkus mie ayam ke rumah dan komentar orang rumah sama seperti saya. Sampai saat ini saya dan keluarga belum menemukan mie ayam seenak pertama kali mereka jualan. Saya, adik-adik, orang tua kami kangen dengan rasa itu.
Ibu dan Pak Kumis bisa kah mengembalikan rasa seperti dulu ? Dengan harga berapa pun juga kami akan membeli. Jangan buat rasa mie ayam yang standar tukang mie ayam yang lain. Kalau kami lewat Tebet, yang kami ingat cuma mie ayam Pak Kumis tahun 1985-an. Nyam … nyam … enak … sruup =P~