Aug
25
Filed Under (Uncategorized) by auliahazza on 25-08-2005

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Beberapa waktu lalu ada seorang nenek
datang ke tempat saya. Kata beliau cucunya mau kursus. Tapi cucunya
lagi dipasar, sebentar lagi kesini. Wow, cucunya atau neneknya yang
mau kursus?

Saya tahu program apa yang diinginkan
dan bilang bahwa program tersebut sekarang belajar dirumah dengan
pengertian datang ke rumah. Di tempat saya sudah ga bisa belajar
software tersebut kalau mau belajar OpenOffice aja.

Nenek itu tanya “Kenapa?”. Ya..
saya bilang karena ada razia bajakan trus saya masih mikir untuk
mempergunakan barang itu, untung dan ruginya lagi pula belum ada
waktu untuk mengurusnya. Kemudian saya ada 2 jasa, yang satu
komersial dan satunya lagi semi komersial yaitu kursus. Bisa sich
dibedakan komputernya tapi apakah Polisi percaya. Polisi itu kan ga
kayak Aa Gym selalu berpikiran positif, mereka itu bawaannya curiga
melulu.

Setelah saya capek neranginnya dari
a-z, nenek itu mengeluarkan perkataan yang menyinggung perasaan saya
… sangat menyinggung … katanya “kalau ga punya uang kenapa buka
?, Saya rugi donk kalau belajar dirumah, belum bayar listriknya!!,
kalau disini kan enak, saya ga bayar listrik, ga bayar angkot karena
tempat anak kan dekat sama rumah saya”, “Anak, orang mana ? …
bla … bla…”. Rupanya  susah gw ngomongnya… rupanya nich nenek
ini ga konek nich… ga nyambung … PELIT. Trus apa hubungannya saya
orang mana ? Pas saya bilang daerah saya, langsung menganggap saya
punya uang banyak. Uang nenek moyang mu!!!

Saya bilang dengan emosi yang tertahan,
“Sebelum ada razia, sudah buka dan saya punya uang. Memangnya nenek
punya uang sekitar 50 juta??. Saya ini punya beberapa jasa dan akan
diragukan oleh aparat … bla … bla ….. ulang lagi penerangannya.
Susah saya neranginnya.

Kalau ga mau ga apa-apa”. Dalam hati
saya bilang “ga rugi kok”.

Sebenarnya saya pengen bilang ke nenek,
sayang tidak terucap, ORANG TUA sich, kalau ga ORANG TUA gue MAKI
juga.

Saya mau ngomong gini :

“Nek, boleh aja sich saya terima cucu
nenek belajar ditempat saya, tapi harga kursusnya lain yaitu 50 juta
rupiah, itu untuk denda memakai software bajakan plus sekitar 4
jutaan kalau 1 komputer saya kena segel atau 50 juta kalau komputer saya
semua disegel plus nenek harus bersedia dipenjara karena yang minta
kursus ditempat saya adalah nenek. Atau mau tidak menyediakan seharga
1 juta untuk ongkos bolak balik ngurusin lisensi, harga tersebut
sudah termasuk harga kursus, penantian turunnya lisensi, dll. Nenek
sendiri pake bajakan atau pake yang asli ?. Pasti pake bajakan kan !!!?

Banyak orang tua malah pengennya
belajar dirumah karena anaknya bisa dipantau belajar. Karena sering
kejadian selama saya mengajar 12 tahun, ada anak minta ijin sama ortu
kursus, rupanya dia main sama teman-temannya, baru ketahuan tidak
kursus setelah saya telepon ke rumahnya karena sudah ga masuk lebih
dari 3 kali. Lagipula ga rugi kok untuk suatu ilmu, apa arti uang
kursus kalau nanti akan dipakai seumur hidup cucunya. Trus saya juga
tidak nambahin biaya 10 % karena datang ke rumah. Harga ditempat
kursus saya dan datang ke rumah sama.

Sampai selesai pembicaraan yang tidak
menyenangkan itu, cucunya belum nyampe juga ditempat saya. Sebenarnya
nenek maksain cucunya belajar kan ? Bilang aja nek, nenek kan yang
mau belajar? Kalau nenek yang belajar… wah saya angkat topi
tinggi-tinggi. Tapi maaf yach atas ketidak nyamanan ini. Trus juga
jangan bawa asal daerah yach, juga jangan mengganggap orang yang
punya komputer itu orang kaya.

Ngomong-ngomong kalau ada anggota
keluarga nenek or nenek sendiri akhirnya berubah pikiran, kayaknya
saya sudah terima lagi, sorry menyorry dech, masalah nenek sudah
menyinggung perasaan saya dan menyinggung harga diri saya.